Senin, 07 Mei 2012

ANOTASI BUKU TENTANG KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI BELAJAR


ANOTASI BUKU TENTANG KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI BELAJAR

1.      Cunningham, W. G. & Cordeiro, P. A. (2003). Educational Leadership : A Problem Based Approach. Boston, MA : Allyn & Bacon. (412 halaman)
Buku ini terdiri dari 13 bab,  yang isinya fokus kepada isu-isu terkait dalam kepemimpinan belajar. Kepemimpinan Belajar merupakan sebuah pendekatan dalam pembelajaran yang membahas secara komprehensif masalah-masalah yang berkaitan dengan administrasi belajar.

Bab I, membahas teori administratif dan tanggungjawab kepemimpinan, dimulai dengan kepemimpinan dalam pendidikan, modal manusia dan basis pengetahuan yang terakumulasi, pengetahuan dan proses administratif, administrative platform, serta basis pengetahuan dalam administrasi pendidikan.
Bab II, membahas konteks dan perspektif untuk para pemimpin pendidikan. Hal-hal yang dibahas dalam bab ini adalah mulai dari pengetahuan konteks, konteks yang luas dan kompleks, asal-usul pendidikan, pencapaian target nasional, tahun 1990 dan setelahnya, permintaan teknologi baru, respond dan peran negara bagian serta tantangan di abad 21.
Bab III, membahas tentang reformasi sekolah. Ada suatu usaha untuk membuat budaya belajar yang menyediakan forum, dan forum tersebut diatur oleh prinsip-prinsip pembelajaran yaitu (1) personalized, flexible and coherent, (2) internally and externally connected, (3) rich in information and flexible and diverse learning experiences, (4) intergenerational in the configuration of learning experiences, (5) grounded in collaborative inquiry, (6) focused on complex cognition, problem finding and problem resolution.
Bab IV, membahas tentang keragaman budaya dan hubungan komunitas. Sejumlah faktor sosial dan budaya mempengaruhi pembelajaran anak-anak. Hal-hal tersebut adalah etnis, kelas sosial, jenis kelamin, ketidakmampuan, keluarga, lingkungan rumah dan bahasa dan kesemuanya itu akan lebih baik jika dimengerti oleh para pendidik.
Bab V, membahas tentang struktur organisasi distrik sekolah dan kepemimpinan mulai dari peranan lokal, divisi sekolah lokal, dewan sekolah, divisi sekolah tingkat atas, operasi-operasi kantor pusat,  serta administrator sekolah.
Bab VI, membahas tentang kepemimpinan sekolah yang berhasil. Dalam bab ini mencakup penilaian karakteristik pemimpin, paradigm kepemimpinan, analisis instrument kepemimpinan, teori terkini tentang kepemimpinan, praktisi yang reflektif, serta kepemimpinan kepemimpinan.
Bab VII, membahas  Dimensi Moral dan Etika Kepemimpinan. Kesimpulan dari bab ini adalah bahwa Kepemimpinan Pendidikan melibatkan nilai, moral dan etika. Tujuan dari pendidikan dalam abad 21 adalah untuk merefleksikan perubahan konteks organisasi pendidikan.
Bab VIII, membahas tanggungjawab kepemimpinan utama yang berhubungan dengan kurikulum, pengajaran, dan pengembangan program. Dihadirkan masalah bagaimana pemimpin pendidikan menilai ‘kelebihan dan kekurangan’ dari suatu kurikulum.
Bab IX, membahas mengenai pelayanan personal siswa. Pada kesimpulannya dikatakan bahwa banyak program dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan social, emosional dan afektif siswa.
Bab X, membahas Manajemen Sumber Daya Manusia.  Disini ditampilkan masalah-masalah dari staf, sehingga pokok bahasan yang ditampilkan adalah bagaimana caranya agar tidak timbul masalah dari para staf.
Bab XI, membahas Isu hukum dan kepatuhan; dengan menampilkan masalah seandainya ‘tidak mengikuti kebijakan dewan sekolah’, dengan melemparkan pertanyaan apa yang akan dilakukan bila pembaca adalah kepala sekolah.
Bab XII, membahas Keuangan dan Pelayanan. Pada kesimpulannya dikatakan bahwa administrator sekolah harus mempunyai pengetahuan dasar bagaiman mendanai sekolah. Bagian akhir dari pembahasan dibuku ini, pada
Bab XIII disajikan ikhtisar singkat tentang hal-hal yang berkaitan dengan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) dari dua orang ahli, yaitu Ed Bridges dari Stanford University dan Philip Hallinger dari Vanderbilt University. Bab ini juga diperkaya dengan bagaimana mengolah kemampuan tim secara utuh disertai tulisan mengenai lima proyek Pembelajaran Berbasis Masalah.


2.      Fullan, M. (2007). Educational Leadership. San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc. (336 halaman)

Buku ini dibagi dalam 4 bagian untuk memberikan spesifikasi dalam pembahasannnya. Walaupun merupakan kumpulan artikel, namun tiap bagian dari topik yang disajikan merupakan sebuah kesatuan yang menunjukan betapa pentingnya sebuah nilai kepemimpinan dalam pendidikan. Buku ini merupakan tulisan yang memberikan gambaran secara komprehensif tentang kepemimpinan belajar.
Bagian I membahas tentang permasalahan yang berkaitan dengan kepemimpinan, manajemen, dan perilaku organisasi. Pada bagian awal bab, dikemukakan bahwa keaslian jiwa kepemimpinan dapat dilihat dari berbagai perilaku yang ditampakan oleh si pemimpin saat pada saat berkuasa. Pada bagian ini juga diperkenalkan disiplin belajar oleh Peter Senge, yang meliputi 1) system thinking, 2) personal mastery, 3) mental models, 4) building shared vision, dan 5) team learning. Selanjutnya dalam bagian ini juga dikemukakan tentang pentingnya pengelolaan manajemen kepemimpinan yang dikomparasikan dengan Total Quality Management (TQM).
Bagian II menjelaskan ada tiga peran penting bagi pemimpin dalam  membangun organisasi yang kuat. Tiga bagian khas dari sebuah kepemimpinan yang diharapkan dalam pembahasan ini, yaitu 1) pemimpin sebagai visioner, 2) pemimpin sebagai otak strategi, dan 3) pemimpin sebagai agen perubahan. Bagian akhir dari pembahasan dari bagian kedua buku ini, ditutup dengan tulisan yang mengeksplorasi peran pemimpin sebagai agen perubahan dalam mengubah organisasi dan membangun masyarakat.
Bagian III membicarakan berbagai hal yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan sebuah kepemimpinan dalam pendidikan. Pada bagian ini tulisan diarahkan pada tiga fungsi pemimpin. Bagian ini juga mendeskripsikan bagaimana seorang pemimpin membuat perbedaan nyata dalam masyarakat.
Bagian IV merupakan bagian yang penting karena membahas tentang moralitas kepemimpinan. Bagian ini memberikan bimbingan praktis tentang pembentukan sekolah masa depan yang kuat. Untuk memberikan nuansa yang berbeda dari bagian sebelumnya, bagian ini membahas secara detail tentang moralitas kepemimpinan dalam kerangka perubahan pada kepemimpinan masa depan, mulai masalah kepemimpinan, pelayanan sampai pada masalah keanggotaan. Diakhir bagian, pembahasan diarahkan pada upaya pembentukan komunitas virtual, sebagai antisipasi kebutuhan untuk kepemimpinan pendidikan di masa depan.


3.      Fulmer, R. M. and Goldsmith,M. (2001). The Leadership Investment. New York : Amacom. (334 halaman)

Buku ini dikemas dalam 11 bab, yang isianya hasil penelitian panjang yang dilakukan oleh akademisi dan praktisi yang tertarik untuk mengetahui konteks seperti apa yang dibutuhkan oleh kepemimpinan dimasa yang akan datang. Sajian dalam buku ini bertolak dari sebuah premis bahwa kegiatan pembelajaran  merupakan satu-satunya sumber yang akan membawa perubahan yang berkelanjutan pada kehidupan global. Investasi pendidikan mengalahkan keunggulan investasi uang, waktu, dan energi di kehidupan globalisasi.
Bab I mengemukakan konteks keuntungan yang dapat diperoleh dari program pengembangan kepemimpinan. Bab II dan Bab III memberikan ide pembahasan tentang pencarian kualifikasi kepemimpinan melalui proses pelatihan. Pada bagian ini penulis memberikan contoh pelatihan yang dapat menghasilkan kualifikasi kepemimpinan yang diinginkan, seperti program pengembangan kepemimpinan Anderson partner (PDP).
Selanjutnya pada Bab IV, disajikan gambaran investasi yang mengalami perkembangan yang berhasil melalui sebuah proses kepemimpinan yang baik. Penulis pada bagian ini memberikan ikhtisar tentang bagaimana komitmen yang dijalani oleh Hewlett-Package Company (HP). Secara rinci, komitmen dibahas pada Bab V, mengemukakan tiga komitmen dasar, yaitu 1) komitmen terhadap kredo, 2) komitmen terhadap manajemen yang desentralisasi, dan 3) komitmen terhadap rencana jangka panjang. Bab VI dan Bab VII memfokuskan pembicaraan pada pentingnya melakukan investasi. Pada bagian ini juga disajikan analisis perubahan budaya dalam perbankan dengan membandingkan antara church model dengan learning organization model.
Pada Bab VIII membahas tentang pengembangan kepemimpinan dari berbagai aspek, seperti pelatihan, mentoring dan pembekalan. Bab IX memberikan gambaran secara detil tentang perubahan yang dibuat oleh universitas-universitas terkemuka didunia dalam manajemen kepemimpinan. Bab X terfokus pada hal yang membahas tentang kreativitas kepemimpinan dan organisasi belajar yang melibatkan keikutsertaan masyarakat sebagai partner. Sebagai penutup pada Bab XI, buku ini diakhiri dengan tulisan mengenai bagaimana mensinergikan 5 perkembangan strategis dalam kepemimpinan, yang meliputi 1) awareness, 2) anticipation, 3) action, 4) alignment, dan 5) assesment.


4.      Goldsmith, M. Morgan, H. & Ogg, A.J. (eds). (2004). Leading Organizational Learning: Harneshing The Power of Knowledge. San Fransisco: Jossey-Bass, (360 halaman)

Buku ini dikemas dalam 5 bagian, yang bertitik tolak dari sebuah pemikiran penting untuk memetakan hal-hal yang prioritas dalam mengelola dan mengendalikan sebuah organisasi, sehubungan dengan cepatnya perubahan yang terjadi dalam organisasi itu sendiri. Berbagai artikel yang disajikan dalam buku ini berbicara banyak tentang beberapa pemikiran pemimpin terkemuka di dunia, ide yang mereka cetuskan, konsep dan praktek pada subjek organisasi belajar.
Bagian I, memaparkan tentang pemecahan alternatif masalah pengelolaan bisnis dengan strategi pemindahan ide/gagasan. Pada bagian ini dikemukakan pembahasan tentang lima budaya organisasi dan dilema manajemen pengetahuan yang berkaitan dengan lima budaya tersebut. Goldsmith secara praktis menuliskan sepuluh langkah (pedoman) untuk mengelola manajemen organisasi. Bagian ini ditutup dengan solusi terbaik dalam pengelolaan organisasi melalui pemindahan gagasan dari orang perorang dalam organisasi.
Bagian II, mengulas secara rinci tentang proses kerja manajemen. Bagian ini dimulai dengan pembahasan tentang era manajemen dan definisi tentang pengetahuan. Pada bagian ini juga penulis memuat tulisan yang memperkenalkan  pembaca  pada  tiga bagian dari organisasi belajar, yaitu : 1) learning capability, 2) generate, dan 3) generalize ideas with impact. Bagian ini ditutup dengan tulisan yang mengemukakan ide tentang penerapan teknologi informasi untuk pengembangan kepemimpinan.
Bagian III, merupakan bagian yang padat dengan berbagai pengalaman para pemimpin organisasi yang meraih kesuksesan dengan berbagai masalah yang terintegrasi didalamnya. Bagian ini memberikan pengetahuan tentang the four stage learning cycle, meliputi : 1) knowing yang berisi tentang events, facts, figures, dan data, 2) understanding yang berisi tentang seeing patterns, 3) thinking yang memuat creating assumptions, dan 4) learning yang berisi applying dan changing assumptions.
Bagian IV merupakan bagian yang penting dari buku ini karena berbagai tulisan yang dimuat pada bagian ini merupakan artikel yang memberikan pengetahuan tentang bagaimana sebuah organisasi dapat berubah untuk menuju masa depan baru yang lebih baik. Secara terperinci bagian ini mengulas tentang bagaimana hubungan antara konsultan dengan klien dalam mengembangkan ide baru bagi kemajuan organisasi dengan menerapkan lima elemen, meliputi : 1) integrity, 2) competence, 3) client versus self orientation, 4) familiarity, 5) risk. Bagian ini diakiri dengan sebuah pembahasan mengenai mitos-mitos dan realitas manajemen pengetahuan serta pembahasan tentng bagaimana organization learning dapat bergerak menuju masa depan.
Bagian V, mengulas pelbagai studi kasus dan contoh yang dialami dalam organisasi belajar. Berbagai studi kasus yang disajikan pada bagian ini merupakan bagian dari upaya menggali kemungkinan untuk dapat menciptakan kepemimpinan organisasi belajar yang lebih baik. Tulisan dalam bagian terakhir ini menjadi sangat menarik untuk dijadikan pelajaran karena melibatkan berbagai contoh organisasi besar, mulai dari perusahaan sekelas motorola sampai dengan wall street.


5.      Kasali, R. (2006). Change. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum. (456 halaman)
Buku ini dikemas dalam 5 bagian, yang isinya penulis ingin menyampaikan bahwa hidup ini selalu berubah dan untuk menghadapi perubahan itu, kita diminta untuk belajar terus menerus. Dalam buku ini penulis menyampaikan filosofi perubahan yang dia mulai dengan memaparkan kenapa kita harus berubah dengan melihat sejarah kehidupan orang-orang atau bangsa-bangsa seperti yang disampaikan oleh Evelyn Waugh bahwa “Change is only evidence of live”, dan perubahan itu dapat dimulai dari seorang pemimpin seperti yang disampaikan oleh Napoleon Bonaparte “a leader is a dealer in hope”.
Bagian I,  berisikan “Filosofi, Sejarah, dan Konsep Dasar Perubahan”. Secara filosofi  penulis menyampai mengapa kita harus berubah, disampaikan juga beberapa sejarah kerajaan nusantara yang selalu diwarnai dengan  perubahan  dan juga disampaikan sejumlah teknik membaca perubahan. Manusia yang hidup akan selalu berubah, hari ini ia adalah seorang bayi yang hidupnya tergantung orang lain, esok ia adalah makhluk kecil yang jatuh bangun belajar berjalan, lalu ia berlari, setelah itu ia menjadi makhluk dewasa yang menghadapi berbagai persoalan. Kadang tertawa, senang, tapi kadang sedih dan menangis.
Bagian II,  berisikan “Melihat dan Memercayai Perubahan”. Disini penulis menyampaikan bagaimana seorang  pemimpin perubahan melakukan berbagai teknik kontras untuk meyakinkan para pengikutnya  untuk memercayai, bergerak dan menyelesaikan perubahan. Melihat perubahan tentu berbeda dengan melihat benda-benda yang kasat mata. Perubahan adalah sesuatu yang tidak mudah dibaca. Berbagai kemungkinan dapat saja terjadi dalam perubahan karena itu seorang pemimpin dapat di ibaratkan sebuah mata, ia bukanlah sekedar seseorang yang bergerak secara acak, melainkan seseorang yang melihat secara visoner, sesuatu yang tidak kelihatan atau belum kelihatan oleh banyak orang. Pemimpin mampu melihat mana yang benar-benar bergerak mana yang tidak.
Bagian III, berisikan  “Memulai Perubahan”. Penulis memulai dengan analisis turnaround yaitu analisis untuk menyelamatkan organisasi yang masih punya peluang untuk selamat, lalu dijelaskan bagaimana meluluh lantakan kompleksitas yang ada agar organisasi lebih mudah bergerak secara simple untuk kemudian dijelaskan bagaimana mengajak pengikut untuk berorientasi pada tindakan.
Bagian IV, berisikan “Mengubah Budaya Korporat”. Bagian yang tidak ringan lainnya dalam melakukan perubahan adalah mengubah nilai-nilai dasar, asumsi, dan kepercayaan yang dianut banyak orang dalam sebuah institusi. Tranpormasi nilai-nilai, lalu bagaimana menyatukan nilai-nilai dalam subkultur dan bagaiman cara memperkuatnya. Setiap perubahan membawa nilai-nilai baru. Nilai-nilai itu dapat dibawa generasi baru atau dapat juga dibentuk oleh keadaan yang berasal dari luar organisasi. Jika nilai-nilai baru itu berbeda dengan yang dikehendaki  organisasi maka akan terjadi evolusi nilai-nilai.
Bagian V, berisikan  “Membuat Pesta Perubahan”. Dua konsep penting yang ditawarkan dalam  melalui perubahan yaitu bagaimana menciptakan pesta perubahan dan bagaimana  mengelola harapan. Mahatma Gandhi mengatakan “Bahagia adalah ketika apa yang engkau pikir, apa yang engkau katakan  dan apa yang engkau kerjakan berada dalam keadaan yang harmonis”.  Harapan dan realitas adalah dua hal yang selalu terjadi pada manusia, tetapi pengalaman dan pengetahuanlah yang membentuk ekspektasi. Oleh sebab itu meski sebagaian besar orang memiliki harapan yang realistis, masih banyak orang yang menaruh eskpektasi terlalu tinggi. Eskpektasi dan harapan akan menimbulkan kekecewaan atau kepuasan manakala ia bertemu dengan realitas.


6.      Law, S and Glower,D. (2000). Educational Leadership and Learning. Buckingham: Open University Press. (305 halaman)

Buku ini dikemas dalam 3 bagian  yang memuat 14,  memfokuskan pemikiran terhadap tujuan-tujuan praktis dengan berorientasi dari berbagai pengalaman yang diperoleh oleh penulis dari berbagai sumber dan banyak sekolah (lembaga pendidikan). Titik tolak pemikiran dari buku ini adalah munculnya otonomi profesional sebagai isu sentral yang pada akhirnya memberikan perspektif baru yang melahirkan istilah manajemen publik baru dalam kepemimpinan belajar. Pada saat berbicara mengenai kepemimpinan, hal yang difokuskan dalam buku ini adalah strategi kepemimpinan, bukan semata-mata hanya pada gaya kepemimpinan.
Bagian I, penulis menyajikan kerangka pemikiran untuk mengamati berbagai hubungan yang terjadi antara tiap individu, kelompok, dan organisasi secara keseluruhan. Bagian ini terdiri atas Bab 1 sampai dengan Bab 5. Pada bagian ini membahas tentang gambaran singkat mengenai garis hubungan yang terjadi dalam konteks sosial, politik, dan pendidikan dalam manajemen belajar. Selanjutnya dibahas juga kerangka tugas dan tanggung jawab dalam organisasi pendidikan. Berikutnya secara terperinci membahas tentang sifat tanggung jawab dan peran individu dalam pengelolaan manajemen. Selain itu dibahas juga konsep yang diperiksa dan diteliti secara mendalam. Bagian ini ditutup dengan pembahasan tentang bagaimana menilai kerja tim dan bagaimana melihat kinerja tiap individu, kelompok, dan tim bekerja dalam konteks perubahan organisasi belajar.
Bagian II, membahas tentang perubahan dan belajar. Bagian kedua ini dibahas dalam bab 6 sampai dengan bab 10. Bagian ini menjadi pilihan penulis karena menyadari bahwa proses manajemen seringkali dapat dipengaruhi oleh kekhawatiran dan isu-isu yang tidak dapat diatasi dengan cara yang sederhana.  Pada bagian ini membicarakan tentang sistem komunikasi yang efektif. Selanjutnya membahas tentang konsep budaya organisasi dan pengembangan kelembagaan yang efektif. Penulis juga membicarakan tentang tinjauan strategi dalam mengelola perubahan. Berikutnya membicarakan tentang peningkatan efektifitas sekolah. Bagian ini diakhiri dengan membicarakan tentang kemungkinan organisasi belajar menjadi sebuah kenyataan dalam lembaga pendidikan.
Bagian III, merupakan bagian yang penting karena membicarakan secara rinci tentang tugas dan tanggung jawab dalam kepemimpinan belajar. Pada bagian ini membicarakan tentang perilaku kreatif, inovatif dan produktivitas dari sebuah manajemen. Pembahasan itu dilanjutkan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya, keuangan, dan strategi pengelolaan  untuk maksimalisasi kepemimpinan belajar dalam sebuah organisasi. Selanjutnya buku ini diakhiri dengan membahas tentang sifat perubahan kemitraan dan pengembangan profesional untuk kesuksesan masa depan pribadi dan organisasi.

7.      Li Lanqing. (2005). Education for 1.3 Billion. Beijing: Pearson Education. (483 halaman)

Buku ini dikemas dalam 8 bab,  merupakan hasil wawancara Li Lanqing, Wakil Perdana Menteri Republik Rakyat Cina periode 1993-2003. Dalam jabatan tersebut, Li bertanggung jawab untuk menjalankan reformasi pendidikan di RRC. Isi buku ini merupakan refleksi terhadap apa yang telah ia lakukan selama masa jabatannya itu untuk memajukan pendidikan di Cina. Buku yang sarat dengan konsep dan pemikiran seorang anggota Dewan Nasional ini membicarakan tentang pentingnya pendidikan dan penerapan konsep pendidikan di China.
Bab I, membahas tentang permasalahan pendidikan secara nasional dan berbagai isu penting yang terkait dengannya, diantaranya masalah kesejahteraan guru dan pendanaan dalam pendidikan. Reformasi dalam bidang pendidikan juga merupakan isu yang dibicarakan dalam bab ini.
Bab II, memaparkan tentang perlunya menyusun sebuah pemikiran untuk menjadikan pendidikan sebagai masalah utama yang perlu mendapat prioritas. Diskusi pembicaraan mengenai hal ini mengarah pada usaha untuk menjadikan guru sebagai lembaga profesional yang dilindungi oleh undang-undang. Gagasan baru yang dikemukakan pada bab ini adalah perlunya membentuk persatuan guru dan membahas undang-undang yang dapat melindungi komunitas guru.
Bab III, membahas tentang tanggung jawab pemerintah dalam masalah pendidikan. Hal menarik yang dikemukakan pada bab ini adalah pembahasan tentang komersialisasi pendidikan merupakan permasalahan serius yang menghambat terjadinya pendidikan yang berkualitas. Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, bab ini juga memberikan gambaran pendidikan yang diselenggarakan di beberapa negara tetangga, seperti Hongkong, Macao, dan Taiwan.
Bab IV, pembicaraan lebih difokuskan pada pengelolaan sistem pendidikan di Perguruan Tinggi. Bab ini secara terperinci membahas bagaimana seharusnya mengelola pendidikan tinggi menjadi sebuah aset yang dapat menghasilkan kaum intelektual bermutu. Bab IV dan Bab VI menguraikan  tentang perkembangan pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai pada tingkat tinggi. Point penting yang diberikan penekanan pada bab ini adalah masalah kualitas pendidikan. Peningkatan pendidikan bukan hanya pada banyaknya anak-anak yang dapat belajar dalam satu sekolah, namun juga masalah kualitas yang dapat dicapai untuk peningkatan pendidikan itu sendiri.
Bab VII, membicarakan tentang pendidikan yang terkait dengan orang dewasa dan pendidikan kejuruan.  Gagasan yang baru dalam bab ini adalah pembicaraan tentang perlunya memberikan penekanan pada sekolah kejuruan untuk lebih berorientasi pada orientasi kerja. Bab ini jua membicarakan tentang pendidikan berkelanjutan dan pendidikan berbasis masyarakat (school based society). Bab VIII, membicarakan berbagai ulasan yang dikemukakan oleh editor, sebagai apresiasi terhadap berbagai pemikiran yang disajikan dalam beberapa sesi interview bersama penulis.


 8.      Marquardt, M. J. (1996). Building The Learning Organization. New York : McGraw-Hill. (242 halaman)

Buku ini dkemas dalam 10, berisikan pengalaman praktis dan partisipasi aktif penulis pada lebih dari 50  organisasi belajar di seluruh dunia. Dalam buku ini, diperkenalkan enam kemampuan belajar dalam organisasi belajar, yang disebut penulis dengan learning skills, yaitu 1) system thinking, 2) personal mastery, 3) team learning, 4) shared vision, 5) mental model, dan 6) dialogue. Dari keenam kemampuan belajar tersebut memberikan inspirasi kepada penulis untuk memperkenalkan lima dimensi untuk menggerakan organisasi belajar, yaitu 1) learning, 2) organization, 3) people, 4) knowledge,  dan 5) technology. Buku ini menyajikan bagian-bagian yang diperlukan dari setiap dimensi itu dan memberikan gambaran yang utuh tentang bagaimana bagian-bagian dari dimensi itu saling berinteraksi dan melengkapi satu sama lain.
Bab I, menyajikan pembahasan tentang perubahan sosial (social change), politik dan kekuatan ekonomi yang merupakan harapan baru bagi kalangan pekerja dan masyarakat terhadap timbulnya oranisasi belajar. Bab II, penulis memperkenalkan totalitas model organisasi belajar dengan gambaran dan sinopsis singkat dari lima sub sistem model organisasi belajar, termasuk interaksi dan hubungan dari masing-masing sub sistem tersebut. Bab III, mengupas lebih mendalam tentang dimensi, prinsip, praktek, dan cita-cita dari kelima sub sistem. Pada bab ini juga penulis memperkenalkan lima tipe belajar dalam organisasi, yaitu : 1) adaptive learning, 2) anticipatory learning, 3) deutero learning, 4) action learning, dan 5) principles and skills of action learning.
Bab IV,  penulis memberikan penawaran tentang transformasi organisasi melalui empat sub sistem organisasi, yaitu visi, budaya, strategi, dan struktur organisasi. Bab V, merupakan bab yang memberikan sajian tentang upaya memberdayakan organisasi belajar melalui beberapa pengalaman organisasi besar, seperti Honda dan Whirlpool. Bagian ini juga memberikan sepuluh konsep strategis untuk pemberdayaan manusia dalam organisasi belajar. Bab VI dan Bab VII, merupakan bagian yang penting karena memuat tentang konsep pengetahuan manajemen dan kekuatan teknologi dalam organisasi belajar. Penulis mempekenalkan sub sistem pengetahuan yang meliputi 1) acquisition, 2) creation, 3) storage, dan 4) transfer dan utilization.
Pada Tiga bab terakhir penulis menyediakan ruang kepada pembaca untuk membuat kerangka pemikiran dalam membangun sebuah organisasi belajar. Untuk tujuan itu, pada Bab VIII menyajikan 16 langkah sistematis untuk membangun sebuah organisasi belajar. Bab IX merupakan bagian yang menyajikan contoh kongkrit tentang perjalanan sebuah organisasi belajar untuk meraih sukses. Contoh kongkrit yang ditampilkan pada bagian ini adalah yang dialami oleh Rover group. Sedangkan Bab X, memberikan pengetahuan tentang 10 faktor yang dapat memfasilitasi dan menunjang keberlangsungan sebuah organisasi belajar, yang ditulis pada bab sepuluh.

 9.      Nanus, B. and Stepehen M. D. (1999). Leaders Who Make A Difference : Essential Strategies for Meeting The Nonprofit Challenge. San Francisco : Jossey-Bass Publishers. (279 halaman)

Buku ini dikemas dalam 4 bagian , merupakan tulisan yang memberikan gambaran secara komprehensif tentang berbagai kiprah dan gerakan yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin terkenal untuk membawa organisasinya menjadi sesuatu yang istimewa.  Dalam pandangan penulis, tidak ada yang lebih penting untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam melayani anggota dan masyarakat selain meningkatkan efektivitas kepemimpinan mereka. Untuk meningkatkan kepemimpinan organisasi, buku ini memberikan arah bagaimana pendekatan para pemimpin yang efektif terhadap pekerjaan mereka dan secara khusus bagaimana tindakan mereka berkontribusi pada perbaikan manusia dalam masyarakat dalam organisasi yang dipimpinnya.
Bagian I,  memberikan premis dasar tentang kepemimpinan dalam organisasi. Pada bab satu membicarakan tentang definisi kepemimpinan, gambaran karakteristik, peran, dan kualitas para pemimpin yang berhasil, dan bagaimana seorang pemimpin mendapatkan hak untuk memimpin. Bagian ini juga membicarakan tentang berbagai usaha untuk mencapai yang posisi kepemimpinn yang lebih baik dalam menyediakan kualitas layanan bagi klien dan masyarakat. Selanjutnya menawarkan kerangka kerja konseptual yang mengarah langsung ke langkah-langkah kepemimpinan dan efektivitas organisasi. Pada pembahasan akhir dari bagian ini mendiskusikan tentang upaya memulai menjadi seorang pemimpin, membangun hubungan baru, dan menetapkan nilai-nilai dan harapan dalam organisasi.
Bagian II, mendiskusikan tiga peran penting bagi pemimpin dalam  membangun organisasi yang kuat. Bagian ini menyebutkan tiga bagian khas dari sebuah kepemimpinan yang diharapkan, yaitu 1) pemimpin sebagai visioner, 2) pemimpin sebagai otak strategi, dan 3) pemimpin sebagai agen perubahan. Bagian ini juga membicarakan pentingnya visi, bagaimana merumuskan sebuah visi baru, dan bagaimana pemimpin memainkan peran utama dalam menggerakan visi. Selanjutnya membicarakan tentang komunikasi efektif yang seharusnya dibangun oleh seorang pemimpin organisasi. Bagian kedua buku ini ditutup dengan tulisan yang mengeksplorasi peran pemimpin sebagai agen perubahan dalam mengubah organisasi dan membangun masyarakat.
Bagian III, membicarakan berbagai hal yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan sebuah organisasi. Pada bagian ini tulisan diarahkan pada tiga fungsi pemimpin, yaitu 1) pemimpin sebagai pelatih, 2) pemimpin sebagai politisi, dan 3) pemimpin sebagai juru kampanye. Bagian ini juga mengemukakan tentang pentingnya hubungan antara pemimpin dan staf. Selanjutnya menunjukkan bagaimana pemimpin bertindak sebagai seorang politikus, advokat, troubleshooter, dan juru bicara bagi organisasi yang berurusan dengan berbagai stakeholder dan kepentingan. Bagian ini ditutup dengan membicarakan peran pemimpin sebagai juru kampanye dalam mengembangkan dan mempertahankan organisasi.
Bagian IV, mendeskripsikan bagaimana seorang pemimpin membuat perbedaan nyata dalam masyarakat. Bagian ini memberikan arahan bagaimana melakukan akuntabilitas dan ukuran yang dapat  menggambarkan berbagai jenis penilaian yang dapat digunakan untuk menilai kinerja para pemimpin organisasi dan organisasi mereka. Buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai  posisi pemimpin sebagai jembatan ke masa depan yang dapat meninggalkan warisan untuk kepentingan organisasi dan orang-orang yang akan mengikutinya.
 10.  Senge, P. et al.(2000). Schools That Learn: A Fifth Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About Education. New York: Doubleday. (592 halaman)
Buku ini dikemas dalam 4 bagian, mengungkapkan tentang apa bagaimana mewujudkan sekolah dapat menjadi sebuah organisasi yang dapat membelajarkan dengan melibatkan peran serta aktif dari berbagai komponen yang seharusnya berperan dalam organisasi itu, mulai dari siswa, orang tua, guru, tenaga administrasi, dampai dengan kalangan bisnis.
Bagian I, merupakan pembahasan awal tentang lima disiplin. Penulis memperkenalkan sebuah pemikiran utama yang ada dalam organisasi belajar, yang disebutnya dengan 5 disiplin, yaitu 1) personal mastery, 2) mental models, 3) shared vision, 4) team learning, dan 5) system thinking. Dalam pemikirannya, penulis melihat bahwa kelima disiplin ini merupakan satu kesatuan yang memiliki peran yang sama pentingnya. Kelima-limanya merupakan core (inti) dari sebuah organisasi belajar.
Bagian II, membahas tentang permasalahan yang berhubungan dengan keberadaan ruang kelas. Dibagian ini, penulis memberikan ide tentang bagaimana mendesain sebuah pembelajaran ruang kelas  dengan melalui 8 langkah, mulai dari perancangan sampai dengan melakukan percobaan. Bagian ini ditutup dengan pembahasan mengenai berfikir secara sistem dalam mengelola organisasi belajar. Ide yang membahas tentang sistem belajar untuk jangka panjang dan sistem belajar yang ada dalam ruang kelas yang ditulis pada bagian ini merupakan hal yang penting untuk didiskusikan. Untuk melengkapi pemahaman tentang topik itu, penulis menyajikan mapping mental model yan diharapkan dapat memberikan kerangka erfikir untuk mengelola sebuah ruang kelas yang dinamis dan dapat membelajarkan.
Bagian III, pembicaraan difokuskan pada bagaimana menciptakan sekolah yang membelajarkan. Pada bagian ini, dibahas tentang visi sekolah dan bagaimana merealisasikan visi untuk dapat menjadi bagian dari komunitas yang ada dalam organisasi sekolah.  Pada satu tulisan, baian ini menyajikan tentang lima langkah scenario efektif yang sebaiknya dilakukan oleh sekolah untuk mempersiapkan kemungkinan masa depan dari sekolah tersebut. Di akhir bagian, dikemukakan topik tentang kepemimpinan (leadership), dengan pembahasan tentang bagaimana menuju sebuah model baru dalam kepemimpinan belajar. Untuk menggapai model baru itu, penulis memberikan empat kategori, yaitu 1) engagement, 2) system thinking, 3) leading learning, dan 4) self-awareness.
Bagian IV, merupakan bagian yang sama pentingnya dengan bagian-bagian sebelumnya. Pada bagian ini dikaji tentang bagaimana menggambarkan komunitas yang membelajarkan dalam organisasi belajar.  Beberapa ide-ide cemerlang dibicarakan secara detil untuk mencapai keberhasilan dalam mengelola organisasi belajar, misalnya dengan tulisan yang membahas tentang pentingnya koneksi antara para orang tua, seperti yang dicontohkan pada sebuah lembaga St. Martin di Paris. Bagian ini juga membahas tentang pentingnya peran siswa dalam komunitas sekolah, yang disebut dengan istilah childen as leaders.  Kecenderungan itu tersaji dalam tulisan yang menggambarkan tentang pergerakan anak-anak di Kolombia untuk perdamaian. Bagian ini ditutup dengan sebuah tulisan yang memberikan refleksi, sejauhmana kita dapat mengukur dan mengetahui organisasi sekolah kita telah menjadi organisasi belajar atau belum.

11.  Shelton, K. (ed). (1997). A New Paradigm of Leaership: Visions of Excellence for 21St Century Organizations. Provo: Executive Excellence Publishing. (261 halaman)

Buku ini dikemas dalam 4 bagian , merupakan kumpulan tulisan yang mengungkapkan tentang pemikiran terbaik dalam masalah kepemimpinan. Sesuai dengan judulnya, buku ini memberikan inspirasi yang komprehensif untuk membicarakan sebuah paradigma baru dalam kepemimpinan.
Bagian I, membicarakan tentang masalah kepemimpinan yang terkait dengan perubahan waktu memasuki abad 21 yang memiliki dampak perubahan berbagai bidang. Pada bagian ini, dikemukakan ide tentang format kepemimpinan terbaik diabad 21. Menurut penulis, untuk dapat menjadi pemimpin terbaik diabad ini, ada lima hal yang harus menjadi ekspektasi khusus, yaitu 1) set vision and mission, 2) think, 3) keep promises and tell the truth, 4) be mutually accountable, dan 5) expect financial health and solvency from each other.
Bagian II, pembahasan terfokus pada kunci keberhasilan sebuah kepemimpinan, yaitu kualitas. Bagian ini memberikan ekspektasi situasional kepemimpinan dengan berbagai keadaan yang dapat menjadikan sosok pemimpin yang teruji dalam berbagai keadaan. Bagian ini juga mengetengahkan ide tentang 14 komponen standar untuk melihat peranan pemimpin setelah melakukan transformasi ide dalam mengatur anggotanya.Kepemimpinan akan dapat berjalan secara efektif jika terjadi hubungan personal yang seimbang antara pemimpin dan pengikut.
Bagian III, membicarakan secara terperinci mengenai pemimpin dan pengikut, mulai dari kedudukan pemimpin sebagai model, sampai dengan pemimpin sebagai pelayan, yang dapat memberikan layanan prima untuk para pengikutnya.
Bagian IV, merupakan bagian yang penting karena membicarakan tentang jiwa kepemimpinan, sebagai suatu hal yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Bagian ini mengungkapkan bahwa selain harus memiliki kemampuan secara intelektual (kognitif), seorang pemimpin masa depan juga seharusnya memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengelola emosional, moral, dan spririt kepemimpinan.  Untuk memberikan pengetahuan yang lebih lengkap terhadap paradigm kepemimpinan secara utuh, bagian ini juga membicarakan kepemimpinan dalam militer, sebagai pembanding terhadap kepemimpinan sipil yang telah dibahas secara mendalam dalam buku ini.



DAFTAR ISI
 1
Cunningham, W. G. & Cordeiro, P. A. (2003). Educational Leadership : A Problem Based Approach. Boston, MA : Allyn & Bacon………………………..

1
2
Fullan, M. (2007). Educational Leadership. San Fransisco: John Wiley & Sons, Inc…………………………………………………………………………………

3
3
Fulmer, R. M. and Goldsmith,M. (2001). The Leadership Investment. New York : Amacom…………………………………………………………………………..

4
4
Goldsmith, M. Morgan, H. & Ogg, A.J. (eds). (2004). Leading Organizational Learning: Harneshing The Power of Knowledge. San Fransisco: Jossey-Bass……………………………………………………………………………….

5
5
Kasali, R. (2006). Change. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum…………………………………………………………………………….

6
6
Law, S and Glower,D. (2000). Educational Leadership and Learning. Buckingham: Open University Press……………………………………………….

8
7
Li Lanqing. (2005). Education for 1.3 Billion. Beijing: Pearson Education…………………………………………………………………………

9
8
Marquardt, M. J. (1996). Building The Learning Organization. New York : McGraw-Hill……………………………………………………………………..

10
9
Nanus, B. and Stepehen M. D. (1999). Leaders Who Make A Difference : Essential Strategies for Meeting The Nonprofit Challenge. San Francisco : Jossey-Bass Publishers…………………………………………………………………………

11
10
Senge, P. et al.(2000). Schools That Learn: A Fifth Discipline Fieldbook for Educators, Parents, and Everyone Who Cares About Education. New York: Doubleday…………………………………………………………………………

13
11
Shelton, K. (ed). (1997). A New Paradigm of Leaership: Visions of Excellence for 21St Century Organizations. Provo: Executive Excellence Publishing……………

14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar